Persoalan Nilai Tukar dan Ambruknya Keuangan BUMN Energi Kita

- Pewarta

Kamis, 15 September 2022 - 09:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Logo BUMN energi, PLN dan Pertamina. (Dok. Arahnews.com/M. Rifa'i Azhari)

Ilustrasi. Logo BUMN energi, PLN dan Pertamina. (Dok. Arahnews.com/M. Rifa'i Azhari)

ARAH NEWS – Coba dipikirkan sebentar, perusahaan BUMN energi kita, sebagian besar biayanya dalam Dollar Amerika sementara semua pendapatannya dalam rupiah. Apa gak tekor.

Akhirnya yang terjadi biayanya terus melonjak naik sementara pendapatannya yang cenderung menurun.

Bukan hanya menurun secara nominal dalam rupiah tapi jeblok jika diukur dalam dolar. Loh kok diukur dalam dolar? Tentu saja karena kalau belanja lagi tentu dengan dolar.

PLN misalnya beli batubara dengan dolar, semua dipatok dalam dolar. Bahkan peraturan tentang harga batubara DMO dalam dolar.

Bukankah mata uang rupiah adalah alat pembayaran satu satunya yang sah di Indonesia?

Lah kok bisa perusahaan energi belanja di dalam negeri beli bahan bakar batubara pake dolar dan ditetapkan melalui peraturan resmi? Ini pelanggaran UU mata uang. Makar batubara pada negara.

Pemerintah sejak dulu mematok harga batubara DMO, dari jaman SBY harga DMO berkisar 50-70 dolar per ton batubara.

Dulu PLN bayarnya seton Rp 400 ribu-560 ribu per ton batubara karena harga 1 dolar Rp. 8000. Sekarang bayarnya Rp. 900 ribu sampai Rp. 1 juta seton. Biaya PLN naik dua kali lipat.

Itu baru beli bahan bakar primer yang merupakan bagian paling besar dalam belanja PLN.

Belum belanja lain lain, belanja peralatan listrik, belanja tenaga ekspatriat, tim ahli keuangan, semua dibayar dengan dolar. Jadi biaya tambah mahal ya?

Berbanding terbalik dengan pendapatan. Jatuhnya nilai tukar membuat pendapatan langsung terjun bebas.

Pertama pendapatannya dalam rupiah yakni hasil jual listrik yang dibayar dengan rupiah. Semua pendapatan PLN dalam rupiah.

Kalau diukur dengan dolar pendapatan PLN yang tadinya cuma terjun ke dalam got, sekarang terjun ke dalam jurang.

Nah lebih parah lagi ketika bayar utang dalam mata uang asing yang jumlahnya sudah besar, makin melambung.

Ketika memeriksa kantong yang isinya rupiah untuk membayar kewajiban dalam dolar, isi kantong langsung kering.

Nasib PLN beda tipis dengan pertamina, beli dengan dolar, jual dengan rupiah, beli minyak mentah dan BBM dengan dolar, dapatnya rupiah.

Belinya harganya naik dua kali lipat, dapatnya turun dua kali lipat. Apes memang bisnis seperti ini.

Beda tipisnya dimana dengan PLN? Pertamina masih bisa ekspor minyak mentah dan gas dengan pendapatan dolar, atau bisnis penyewaan kapal Pertamina untuk pengiriman ke luar negeri dibayar dolar.

Pertamina juga masih jual minyak dari hulu ke kilang dibayar dolar. Tapi ini jualan didalam rumah sendiri. Tak ada gunanya dihitung. Jeruk makan jeruk.

Ketika pengumanan pendapatannya, kadang kadang malu juga kita mendengarnya. Katanya untung besar, naik melonjak katanya.

Tapi begitu merogoh kantong buat belanja lagi dan bayar utang, semua langsung kering dan terpaksa ditutup utang lagi.

Ini naggung dosa siapa ya BUMN energi kita ini? Apa menjadi tumbal BI yang doyan mainin dolar?

Opini: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Arahnews.com, semoga bermanfaat.

Berita Terkait

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Perum Bulog Akan Akuisisi Sumber Beras dari Kamboja
Peresmian LSP Perikanan Hias Indonesia di Nusatic 2024: Dorong Produktivitas dan Daya Saing Global Industri
Pelaku Pasar Optimis, CSA Index Juni 2024 Naik ke 60: Kinerja IHSG Diperkirakan Membaik
Wijanarko Pimpin Prakonvensi RSKKNI: Transformasi SDM Sektor Keuangan
Memperkuat Standar Profesionalisme: Pelatihan Asesor Kompetensi LSP Pembiayaan Indonesia Digelar
Termasuk Arah Kebijakan FED yang Penuh Ketidakpastian, Indonesia Hadapi Beberapa Risiko Global
Menkeu Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Tumbuh Kuat 5,1 Persen di Tengah Tantangan Global
Ada Potensi Harga Jagung Turun Bahkan Anjlok di Bawah Harga Acuan Saat Puncak Panen Raya Mei 2024
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:29 WIB

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Perum Bulog Akan Akuisisi Sumber Beras dari Kamboja

Minggu, 9 Juni 2024 - 22:57 WIB

Peresmian LSP Perikanan Hias Indonesia di Nusatic 2024: Dorong Produktivitas dan Daya Saing Global Industri

Kamis, 6 Juni 2024 - 18:56 WIB

Pelaku Pasar Optimis, CSA Index Juni 2024 Naik ke 60: Kinerja IHSG Diperkirakan Membaik

Rabu, 22 Mei 2024 - 13:40 WIB

Wijanarko Pimpin Prakonvensi RSKKNI: Transformasi SDM Sektor Keuangan

Rabu, 8 Mei 2024 - 21:55 WIB

Memperkuat Standar Profesionalisme: Pelatihan Asesor Kompetensi LSP Pembiayaan Indonesia Digelar

Rabu, 8 Mei 2024 - 14:06 WIB

Termasuk Arah Kebijakan FED yang Penuh Ketidakpastian, Indonesia Hadapi Beberapa Risiko Global

Selasa, 7 Mei 2024 - 10:07 WIB

Menkeu Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Tumbuh Kuat 5,1 Persen di Tengah Tantangan Global

Jumat, 3 Mei 2024 - 07:27 WIB

Ada Potensi Harga Jagung Turun Bahkan Anjlok di Bawah Harga Acuan Saat Puncak Panen Raya Mei 2024

Berita Terbaru