Bukankah Selisih Harga Subsidi dengan Harga Pasar yang Besar Adalah Sumber Bancakan Oligarki?

- Pewarta

Senin, 29 Agustus 2022 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertamina Imbau Masyarakat Terapkan 3M di SPBU. (Dok. pertamina.com)

Pertamina Imbau Masyarakat Terapkan 3M di SPBU. (Dok. pertamina.com)

ARAH NEWS – Siapa yang tidak mau subsidi BBM dari negara, semua orang mau subsidi.

Tapi apakah semua orang yang mau mendapatkan subsidi adalah berhak atas subsidi?

Apakah semua orang yang berhak atas subsidi dapat memperoleh subsidi? Belum tentu!

Sulit membayangkan bagaimana 27 juta penduduk miskin Indonesia bisa mendapatkan subsidi bahan bakar minyak.

Mereka tidak punya mobil, tidak punya kapal, tidak punya truck pengangkut sawit, pengangkut batubara dan kendaraan pengangkut logistik lainnya.

Mungkin sedikit diantara mereka yang punya sepeda atau gerobak.

Tapi konon mereka kaum miskin mendapatkan harga harga yang stabil, subsidi BBM yang besar membuat harga harga terkendali, inflasi tidak terjadi.

Jadi orang miskin bisa mendapatkan manfaat dari subsidi karena menerima harga harga barang dan jasa jasa yang murah murah. Benarkah demikian?

Konon BBM yang bersubsidi dapat mengendalikan inflasi. BBM bersubsidi menggairahkan produksi industri industri dalam rangka menghasilkan barang dan jasa jasa kebutuhan hidup.

Membuat murah transportasi darat laut dan udara, sehingga ongkos logistik menjadi murah.

Maka murahlah harga barang dan jasa jasa yang dihasilkan oleh tersebut. Konon menurut berita demikian.

Tapi tahukah bahwa industri yang menghasilkan barang barang dan jasa jasa tersebut menurut peraturan perundangan Indonesia tidak boleh memakai BBM bersubsidi.

Jika industri memakai BBM bersubsidi maka itu pelanggaran yang serius dan bisa terkena pidana.

Saya kasih contoh banyak penggilingan padi di Jawa Tengah yang kami kunjungi beberapa waktu lalu mengatakan bahwa mereka tidak boleh lagi memakai solar bersubsidi karena dilarang pemerintah.

Padahal pabrik penggilingan padi tersebut merupakan gudang petani, dan disana ada resi gudang yang bisa dimanfaatkan petani.

Jadi sebenarnya petani pun sekarang tidak mendapatkan BBM bersubsidi.

Pertanyaannya sekarang siapa yang memakai BBM bersubsidi ini? Sementara jangankan industri, usaha pengolahan pada tingkat petani saja sudah tidak lagi boleh memakai BBM bersubsidi.

Dengan demikian seluruh usaha usaha di bidang industri dari hulu sampai ke hilir tidak boleh lagi memakai BBM bersubsidi.

Lalu apa kaitannya BBM bersubsidi dengan inflasi? Semua analis ekonomi menyatakan bahwa bbm bersubdi adalah instrumen pengendali inflasi.

Bagaimana cara menghubungkan ini sementara faktanya tidak ada hubungan antara industri dari hulu sampai ke hilir dengan BBM bersubsidi.

Atau jangan jangan industri masih berhubungan dengan BBM bersubsidi? Tetapi BBM bersubsidi yang dikonsumsi industri adalah ilegal, BBM haram, atau BBM palsu?

Harga BBM subsidi pertalite menurut sumber resmi hanya separuh dari harga sebenarnya, separuh harganya adalah subsidi.

Solar lebih besar lagi subsidinya karena hanya dijual dengan harga sepertiga dari harga aslinya.

Bagi sebagian besar orang ini biasa saja, ini kewajiban negara untuk memberikan subsidi besar kepada rakyatnya. Jadi bagus bagus saja.

Apalagi negara lagi banyak uangnya karena berhasil memungut pajak yang besar, menaikkan PPN 11 %, hasil tax amnesty jilid 3, dan lain sebagainya.

Jadi negara mesti kasih uang kepada masyarakat melalui sunsidi.

Tapi bagi sebagian orang ini adalah peluang bisnis baru. Bisnis ilegal, membeli BBM bersubdi di Pertamina dengan harga murah lalu menjual BBM bersubsidi.

Kepada pihak tertentu, industri tertentu yang memiliki keberanian melakukan pelanggaran atau berani main di ruang gelap.

Bagi rakyat biasa, orang miskin, wong kere, sulit membayangkan bagaimana memanfaatkan peluang selisih harga BBM bersubdi dengan harga pasar baik dalam negeri maupun internasional untuk mengambil atau mengeruk cuan.

Namun bagi orang kuat, orang yang posisinya bahkan lebih kuat dari pejabat negara, bahkan lebih kuat dari pada UU yang berlaku di negara ini, maka perkara peluang mengambil untung dari selisih harga yang besar ini adalah makanannya.

Makanan yang paling nikmat, dia bisa memakannya dengan lahap. Apalagi ditambah mental pejabat publik yang memang masih gampang goyah.

Mental alang alang, angin kecil langsung goyah. Ini adalah peluang besar sama sama mendapatkan uang haram.

Mari kita hitung peluang cuan dari BBM ilegal, jika konsumsi pertalite 30 miliar liter, sepertiga saja di selewemgkan.

Dibeli murah dari pertanian lalu di jual ke bandar seharga pasar, atau diekspor ke luar negeri maka potensi uangnya sekitar Rp. 100 triliun.

Jika solar diselewengakan sepertiga dari 20 miliar liter solar subsidi, maka nilai cuan haram yang bisa diperoleh senilai Rp. 70 triliun rupiah.

Bagaimana kalau separuhnya diselewengkan? Luar biasa cuan ini. Banyak, lalu untuk apa uang sebanyak itu?

Pemilu serentak 2024 itu membutuhkan dana besar. Pihak penyelenggara pemilu saja sampai sekarang belum jelas keuangannya.

Apakah sanggup APBN membiayai pemilu serentak 2024 ini. Karena kebutuhan anggarannya gede.

Lalu bagaimana dengan peserta pemilu? Wah ini kebutuhannya lebih besar lagi, karena harus menyiram uang ke seluruh lini agar mendapatkan suara yang banyak dan mendapatkan keputusan politik sebagai pemenang.

Dua hal yang harus dibiayai dengan uang sama sama besar. Yakni mendapatkan suara dan mendapatkan keputusan politik.

Uang yang diperlukan sangat besar ini salah satu yang paling besar adalah dari sektor BBM yang menopang usaha usaha lainnya.

Uang tersebut harus dicari sekarang, dikumpulkan sebanyak banyaknya sekarang, dari bisnis minyak sendiri, dari tambang, dari bisnis pangan, dari bisnis lainnya.

Kalau bisa menggunakan BBM subsidi secara ilegal, mengapa tidak.

Satu sisi menikmati kenaikan harga komoditas, sisi lain bisa menggunakan BBM subsidi secara ilegal. Ini cuan besar.

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia.***

Buat yang hobby berbagi tulisan artikel atau opini (pendapat, pandangan dan tanggapan) ayo menulis, artikel dapat dikirim lewat WhatsApp ke: 0855-7777888.

Berita Terkait

BNSP Turut Hadir: Konvensi Nasional Bahas Standar Kompetensi untuk SDM Jasa Keuangan
OJK Jambi Apresiasi Pelantikan DPW PROPAMI Jambi Raya: Harapkan Peningkatan Literasi Keuangan
Dukung Penguatan Ekosistem Gula Nasional, Bapanas Menjaga Harga yang Baik di Tingkat Produsen
Stabilitas Suku Bunga: Tantangan bagi IHSG yang Berpotensi Menyebabkan Capital Outflow dari Pasar Modal Indonesia
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Perum Bulog Akan Akuisisi Sumber Beras dari Kamboja
Peresmian LSP Perikanan Hias Indonesia di Nusatic 2024: Dorong Produktivitas dan Daya Saing Global Industri
Pelaku Pasar Optimis, CSA Index Juni 2024 Naik ke 60: Kinerja IHSG Diperkirakan Membaik
Wijanarko Pimpin Prakonvensi RSKKNI: Transformasi SDM Sektor Keuangan
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Rabu, 10 Juli 2024 - 20:27 WIB

BNSP Turut Hadir: Konvensi Nasional Bahas Standar Kompetensi untuk SDM Jasa Keuangan

Sabtu, 6 Juli 2024 - 19:29 WIB

OJK Jambi Apresiasi Pelantikan DPW PROPAMI Jambi Raya: Harapkan Peningkatan Literasi Keuangan

Sabtu, 6 Juli 2024 - 13:32 WIB

Dukung Penguatan Ekosistem Gula Nasional, Bapanas Menjaga Harga yang Baik di Tingkat Produsen

Kamis, 4 Juli 2024 - 09:19 WIB

Stabilitas Suku Bunga: Tantangan bagi IHSG yang Berpotensi Menyebabkan Capital Outflow dari Pasar Modal Indonesia

Selasa, 11 Juni 2024 - 07:29 WIB

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Perum Bulog Akan Akuisisi Sumber Beras dari Kamboja

Minggu, 9 Juni 2024 - 22:57 WIB

Peresmian LSP Perikanan Hias Indonesia di Nusatic 2024: Dorong Produktivitas dan Daya Saing Global Industri

Kamis, 6 Juni 2024 - 18:56 WIB

Pelaku Pasar Optimis, CSA Index Juni 2024 Naik ke 60: Kinerja IHSG Diperkirakan Membaik

Rabu, 22 Mei 2024 - 13:40 WIB

Wijanarko Pimpin Prakonvensi RSKKNI: Transformasi SDM Sektor Keuangan

Berita Terbaru