Dulu Indonesia Dijajah Negara Belanda, Sekarang Penjajah Baru Itu Bernama BUMN

- Pewarta

Selasa, 23 Agustus 2022 - 15:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Kementerian BUMN. (Dok. setkab.go.id)

Gedung Kementerian BUMN. (Dok. setkab.go.id)

ARAH NEWS – Kita merdeka adalah untuk menggerakkan segala potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat.

Penjajahan adalah bentuk dari eksploitasi yang tidak memperdulikan kesejahteraan masyarakat Nusantara kala itu, tapi hanya memakmurkan Belanda kala itu.

VOC menjelma menjadi perusahaan terbesar di dunia yang kapitalisasi pasarnya terbesar di dunia saat itu karena eksploitasi yang luar biasa.

Bung Karno menyebutnya explotasiong The Long Parlong. Kita merdeka agar kita bebas merdeka menentukan nasib kita sendiri.

Zoominari yang di pandu oleh Direktur Narasi Institute Achmad Nur Hidayat memaparkan bahwa setelah merdeka kita belum mampu membangun karena adanya konflik politik dari tahun 1945 sampai akhir tahun 1960an.

Mulailah setelah itu kita mulai bergerak. Namun kita tidak bisa membandingkan dengan masa lalu. Mari kita membandingkan dengan negara tetangga yang waktu membangun nya sama.

Jika kita bandingkan dengan negara negara lain kita mengalami perlambatan sejak tahun 2010 flat sampai sekarang.

Yang naik sekali itu Korea, Malaysia meskipun ada konflik politik. Yang sangat mencuat pembangunan nya itu adalah Cina menyusul Indonesia menyusul Thailand menyusul Malaysia tahun 2020.

Cina nomor 2 setelah Korea kemudian Malaysia lalu Thailand, Indonesia. Jika Indonesia begini terus maka Indonesia akan disusul Filipina dan Vietnam karena sudah sangat mepet posisinya.

Faisal Basri menjelaskan bahwa kita ini bertanya di era kemerdekaan mengapa kita gagal memanfaatkan kemerdekaan untuk mengentaskan kemiskinan.

Mengurangi secara signifikan orang orang yang insecure orang miskin,nyaris miskin, rentan miskin tiga kelompok ini jumlahnya 52,8% di tengah tengah kita sudah merdeka 77 tahun jadi sebetulnya apa yang terjadi.

Pangan kita itu sudah defisit,kita sudah mengimport pangan daripada mengekport pangan.

Industri manufaktur terjadi deindustrialisasi menyebabkan Indonesia lebih banyak mengimport produk manufactur daripada mengekport produk manufaktur.

Minyak kita sudah defisit 600.000 barel perhari kalikan saja 100 dolar. Berapa banyak devisa kita akibat kita lifting turun terus produksi minyak kita turun terus.

Dan tahun depan ditargetkan dibawah 700.000 barel. Jadi kita mengalami Triple defisit di era kemerdekaan ini.

Di era penjajahan pangan kita itu surplus bahkan kita eksportir ternama di karet, eksportir ternama di gula kita nomor 2 tahun 1937 setelah Kuba.

Sekarang pabrik gula kita menyedot tebu lebih banyak daripada petani asing daripada tebu petani lokal. Sekarang pabrik gula kita dikuasai 11 perusahaan besar.

1 punya Tommy Winata, 2 Punya Martua Sitorus, 3 punya Edi Kurniadi yang lain lain saya lupa. Itu total mereka mengimport 5,5 juta ton.

Pangan kita lebih buruk dari masa sebelum kita merdeka. Pangan utama kita kecuali beras kita import 100% untuk gandum,80% untuk kedelai sampai bawang putih.

Kalau kita defisit ketiga hal ini lalu uang untuk nombok defisitnya darimana?. Darimana lagi kalau tidak menguras kekayaan alam semakin dalam.

Membabat hutan semakin luas. Mengambil kekuatan rakyat untuk kepentingan kepentingan tertentu, Komoditisasi penguasaan lahan untuk tambang dan perkebunan.

Mengerikan sekali ketimpangan penguasaan lahan ini dan penguasaan lahan ini makin dahsyat terutama di era SBY.

Era Jokowi juga besar penguasaan lahannya meskipun klaim pemerintah tidak.

Sedikit ke fiskal Belanja pemerintah mencapai 3000 T, pernyataan saya kenapa dibanggakan ya, karena belanja untuk rakyatnya hanya 148,6 T tahun depan tidak naik secara signifikan.

Belanjanya paling pesat di era Jokowi dari 2014 sampai 2023 belanja paling besarnya yaitu bayar bunga.Koq ini dibanggakan,bayar bunga pesat koq bangga.

Era baru 3000 T. Lalu belanja terbesar ke 2 belanja barang. Ketiga belanja pegawai. Keempat belanja modal. Sejak jaman pak Jokowi sampai tahun depan cuma naik sekitar 35%.

Belanja sosial untuk rakyat ini naiknya hanya sedikit. Gagal untuk menjawab APBN ini menjadi instrumen untuk mensejahterakan masyarakat.

Yang ada APBN untuk membayar bunga hutang yang hutangnya itu dinikmati BUMN tahun ini 73 T. Jadi ada namanya penjajah baru dulu Belanda sekarang BUMN.

Kedua adalah perusahaan perusahaan besar itu yang tidak peduli minyak goreng murah apa mahal yang penting dia eksport saja yang kantornya tidak di Indonesia.

Dulu kantor VOC di Amsterdam sekarang kantor Martua Sitorus di Singapura sama saja khan.

Jadi tidak banyak terjadi perubahan struktur kita gagal dalam mensyukuri Kemerdekaan yang telah kita nikmati selama 77 tahun.

APBN sekarang untuk mensubsidi dari yang besar besar itu bukan petani sawit.

Petani sawit dapatnya hanya 4%,rakyat dapatnya hanya sedikit sebagian besar yang menikmati BioFull yang besar besar itu.

Jadi Kemerdekaan ini dinikmati oleh Oligarkhi untuk memperbesar pundi pundi mereka.

Sehingga tidak diragukan lagi ketimpangan itu sangat terjadi. Judi Online dilindungi oleh penguasa.

Yang terakhir tentang subsidi. Pak Jokowi mengatakan subsidi BBM itu 502 T tahun ini kalau tidak ada kenaikan harga. Tetapi itu tidak ada di APBN.

Subsidi BBM di APBN itu hanya 14,6 T. Yang paling banyak itu untuk subsidi Elpigi gas 3 kg 134,8 T kalau digabung ini semua jumlahnya tidak sampai 200 T.

Pemerintah menyuruh PLN dan Pertamina menjual produk nya di bawah ongkos di luar subsidi.

Jadi pak Jokowi mengakui subsidi yang di APBN itu ngawur karena yang benar itu 502,5 T subsidi energi ditambah dana kompensasi Listrik.

Di tengah kemerdekaan ini pemerintah makin tertutup,makin tidak taat fiskal. Makin otoritarian, diskresi tidak hanya di era Covid saja.

Disiplin anggaran sudah parah. Kalau saya menteri Keuangan saya akan mundur karena integritas saya sebagai menteri Keuangan harus dijaga. Saya tidak akan merusak sendi sendi negara.

Oleh: Faisal Basri, Pengamat Ekonomi. Artikel ini dirangkum dari zoominari yang diadakan Narasi Institute pada Jumat 19 Agustus 2022.***

Buat yang hobby berbagi tulisan artikel atau opini (pendapat, pandangan dan tanggapan) ayo menulis, artikel dapat dikirim lewat WhatsApp ke: 0855-7777888.

Berita Terkait

RAPBN 2025 Fasilitasi Ruang Fiskal untuk Program Makan Siang Gratis, Begini Penjelasan Menkeu Sri Mulyani
Terkait Soal Uang Pecahan 1.0 yang Viral.di Medsos, Berikut Ini Penjelasan Resmi Pihak Bank Indonesia
PT Waskita Karya Tbk dan PT Waskita Toll Road Tinjau Lokasi untuk Penanganan Tol Bocimi Longsor
Libur Panjang Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Tirta Kahuripan Tetap Layani 225.134 Pelanggan
CSA Index: Outlook Terbaru Tentang Kondisi Pasar Modal dan Proyeksi Kinerja IHSG
Kunjungan Berkesan: LSP PM dan BNSP Tingkatkan Profesionalisme
BNSP dan LSP Talenta Wirausaha Nusantara: Upaya Bersama Mendorong Usaha Mikro Indonesia
Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2024, Bapanas dan Bulog Siap Salurkan Beras SPHP dan CPB untuk Masyarakat
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Selasa, 9 April 2024 - 08:19 WIB

RAPBN 2025 Fasilitasi Ruang Fiskal untuk Program Makan Siang Gratis, Begini Penjelasan Menkeu Sri Mulyani

Senin, 8 April 2024 - 11:23 WIB

Terkait Soal Uang Pecahan 1.0 yang Viral.di Medsos, Berikut Ini Penjelasan Resmi Pihak Bank Indonesia

Kamis, 4 April 2024 - 10:59 WIB

PT Waskita Karya Tbk dan PT Waskita Toll Road Tinjau Lokasi untuk Penanganan Tol Bocimi Longsor

Rabu, 3 April 2024 - 11:04 WIB

Libur Panjang Hari Raya Idul Fitri 1445 H, Tirta Kahuripan Tetap Layani 225.134 Pelanggan

Selasa, 2 April 2024 - 00:04 WIB

CSA Index: Outlook Terbaru Tentang Kondisi Pasar Modal dan Proyeksi Kinerja IHSG

Minggu, 17 Maret 2024 - 02:14 WIB

Kunjungan Berkesan: LSP PM dan BNSP Tingkatkan Profesionalisme

Sabtu, 9 Maret 2024 - 03:34 WIB

BNSP dan LSP Talenta Wirausaha Nusantara: Upaya Bersama Mendorong Usaha Mikro Indonesia

Selasa, 5 Maret 2024 - 14:51 WIB

Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2024, Bapanas dan Bulog Siap Salurkan Beras SPHP dan CPB untuk Masyarakat

Berita Terbaru