ARAH NEWS – Tragedi Kanjuruhan Malang harus menjadi pelajaran.
Sanksi mesti diberikan kepada para penanggungjawab kerusuhan yang mengakibatkan ratusan nyawa melayang.
33 di antaranya anak-anak. Cara mengamankan yang membahayakan dan melanggar aturan FIFA.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penanggungjawab utama untuk keamanan pertandingan kesebelasan dua Kota/Kabupaten di Jawa Timur Persebaya Surabaya dan Arema FC Malang adalah Kapolda Jawa Timur.
Berita simpang siur menyatakan Kapolda Jatim ini ikut menonton. Benar hadir atau tidak di arena, namun seluruh perilaku anak buah di lapangan tetap menjadi tanggungjawab atasan.
Irjen pol Nico Afinta ini malah pernah menyatakan penggunaan gas air mata di stadion dibenarkan, padahal hal itu jelas melanggar aturan FIFA.
Semestinya ia mundur sebagai wujud dari atasan yang bertanggungjawab.
Akan tetapi nampaknya mundur karena malu atau bersalah belum menjadi budaya dari para pejabat negara di Indonesia. Termasuk aparat penegak hukum.
Maju terus pantang mundur dianggap prinsip yang hebat. Karenanya tidak ada jalan lain baginya selain dimundurkan. Berhentikan Nico Afinta.
Begitu juga dengan Ketum PSSI Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan atau yang lebih dikenal dengan Iwan Bule.
Wujud tanggung jawab yang menurutnya dalam bentuk datang ke lokasi bukanlah tindakan sepadan.
Baca Juga:
DBS Raih Gelar Bank Digital Terbaik di Dunia
Juara 2025 dan 2026, Satria Muda Catat Dua Gelar IBL All Indonesian
Apalagi dalam sambutannya ia mengawali dengan kalimat “hadirin yang berbahagia”. Di tengah duka.
Penyelenggaraan dan pengamanan yang buruk tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab PSSI. Nampaknya sebentar lagi PSSI pun akan mendapatkan sanksi hukum dari FIFA.
Duo penanggung jawab yang harus mundur atau dimundurkan adalah Nico dan Iwan Bule.
Jika pada bangsa sendiri bersikap maju terus pantang mundur mungkin dapat dimaklum karena rakyat sudah biasa diperlakukan “masa bodoh” oleh para penguasa.
Akan tetapi pada dunia, kita harus tunjukan martabat dan karakter bangsa yang tahu malu dan tahu salah.
Nico dan Iwan Bule adalah simbol dari pertanggungjawaban tragedi atau pembunuhan 200 an warga sipil di stadion Kanjuruhan.
Baca Juga:
Yokogawa Raih Hibah Energy Grid 3.0, Dorong Peran Industri dalam Transisi Energi Singapura
Huawei dan Longgang International Arts Center Perkenalkan Pusat Seni Cerdas Berstandar Global
Percuma membuat tim gabungan, yang nyatanya bukan “tim independen”, itu jika tidak dibuktikan kerjanya dengan sikap awal untuk memundurkan Irjen Pol Nico Afinta dan Komjen Pol (Purn) Mochammad Iriawan.
Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Arahnews.com, semoga bermanfaat.
Oleh: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.***










