Tolak Pelebaran Trotoar di Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Pengusaha Kuliner Kembali Unjuk Rasa

- Pewarta

Sabtu, 18 Juni 2022 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi unjuk rasa di Jalan Juanda Raya, Jakarta Pusat. (Dok. Yoga )

Aksi unjuk rasa di Jalan Juanda Raya, Jakarta Pusat. (Dok. Yoga )

ARAH NEWS – Para pengusaha kuliner yang tergabung dalam komunitas pengusaha kuliner Jalan Juanda dan warga sekitar menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Juanda Raya, Jakarta Pusat, Jumat 17 Juni 2022 sore.

Mereka menolak kebijakan Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta yang akan melebarkan trotoar Jalan Juanda.

Para pengusaha tersebut dengan tegas mengeluarkan pernyataan menolak pelebaran trotoar yang akan mengakibatkan penyempitan jalan dan berdampak bangkrutnya usaha mereka.

Para pengunjuk rasa membentangkan spanduk di Jalan Juanda atau pada posisi seberang Istana Kepresidenan tersebut.

“Kami menolak secara tegas pelebaran trotoar karena akan mengancam usaha kami yang baru saja lepas dari Pandemi Covid-19,” ujar Ketua Komunitas Pengusaha Kuliner Juanda, Eko Sriyanto Galgendu.

Ditegaskannya, mereka berada di sini sudah biasa menjamu para tamu baik dari Mabes TNI Angkatan Darat, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Hukum dan HAM dan lainnya.

Rencana pelebaran trotoar yang dilaksanakan Dinas Bina Marga di sekitara ring satu Istana Kepresidenan.

Menurut Eko akan mengakibatkan penyempitan jalan dan berkurangnya jumlah parkir kendaraan.

“Penyempitan jalan akan menjadikan dampak kemacetan, padahal salah satu janji Anies Bawesdan sebagai Gubernur DKI Jakarta adalah mengatasi kemacetan,” kata Pengusaha asal Kota Solo ini.

Dia mengungkapkan, selama ini dari pertigaan Pacenongan hingga Stasiun Juanda kurang lebih 100 kendaraan yang parkir di pinggir jalan.

“Tempat parkir di kawasan tersebut juga dimanfaatkan oleh Pemda, Kemendagri, Istana Negara, Kemenkumham untuk kegiatan. Bahkan, Jalan Juanda Raya dijadikan jalan alternatif ketika ada demo,” katanya.

Eko Galgendu menegaskan jika Pemprov DKI Jakarta atau Kepala Dinas Bina Marga memaksakan untuk tetap mengerjakan pelebaran trotoar, hampir 40 persen para pengusaha kuliner jatuh pailit dalam waktu sekira 2-3 bulan.

Pihaknya berharap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Kepala Dinas Bina Marga, Harry Nugroho untuk datang ke Jalan Juanda untuk mendengar langsung keluhan para pengusaha kuliner.

Jangan hanya mendengar laporan dari bawahan dan menganggap laporannya itu suatu kebenaran.

Pemilik Restoran Ayam Ancur ini mengungkapkan, usaha kuliner di Jalan Juanda sudah berdiri sejak masa pemerintahan Bung Karno hingga Presiden Jokowi ini.

Dia menyebutkan, bila rencana pelebaran trotoar itu tetap berjalan maka itu sama saja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ingkar janji.

“Kami berharap Bapak Anies kontisten dengan programnya yaitu harum kotanya, bahagiakan warganya.”

“Jangan sampai kemudian bangun kotanya menyengsarakan warganya,” cetusnya.

Eko pun menjelaskan, memang sudah ada pertemuan dengan Wali Kota Jakarta Pusat dan jajarannya.

Mereka berjanji akan membawakan aspirasi kami ini ke Pemprov karena memang yang memiliki proyek ini adalah Premprov.

Namun setelah dua minggu usai pertemuan tersebut tidak ada kelanjutan.

Eko menambahkan, pengusaha seharusnya bisa berbahagia karena pandemi Covid-19 sudah melandai.

Sehingga membuahkan harapan perekonomian segera bangkit kembali.

“Tetapi, dengan adanya pelebaran trotoar ini membuat harapan kami redup kembali.”

“Menurut informasi yang kami dapat, pelebaran trotoar akan digunakan untuk lajur sepeda, padahal sehari-harinya jarang sekali ada pesepeda melintas,” tuturnya.

Pendapat senada dikatakan Manajer Restoran Happy Day, Rofik yang berharap Pemprov DKI meninjau ulang rencana pelebaran trotoar.

Penyempitan jalan berdampak terhadap kelangsungan hidup restoran dan juga karyawan yang jumlahnya ratusan orang.

“Dampak pelebaran trotoar dan penyempitan jalan akan merugikan pengusaha karena lahan parkir yang berkurang akan menurunkan omset perusahaan yang akan berdampak pada pengurangan karyawan,” ujar Rofik.

Sementara itu, Fida pemilik Soto Madura Juanda menegaskan menolak pelebaran trotoar dan penyempitan jalan. Karena selama ini dengan parkir yang maksimal saja tidak cukup.

“Karena parkiran di Juanda bukan dimonopoli oleh kita saja tapi banyak instansi pemerintah yang berkantor di daerah ini parkir disitu. Itupun kami kewalahan,” katanya.

Dia mengatakan, bahwa di Jalan Juanda sekitar 98 persen menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan pejalan kaki dan pengguna sepeda bisa dihitung dengan jari.

“Kebetulan banyak pejabat pemerintah yang makan di tempat kami karena kedekatan lokasi. Kami minta tolong bagi pejabat berwenang pakai hati nurani, jangan hanya perencanaan untuk memperindah jalan,” katanya.

Iril Sahbirin dari Restoran Padang Sederhana menegaskan, dengan perluasan trotoar tentu akan membuat jalan semakin sempit.

Otomatis akan membuat jalan semakin macet parah. Hal ini, menurutnya, tentu membuat orang akan enggan untuk singgah makan disini.

“Trotoar belum jadi saja omset kami menurun. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana kalau sudah terjadi pelebaran trotoar dan penyempitan jalan, yang jelas jalan akan macet parkir tidak ada, tentu biaya operasional di ring 1 sangat besar sekali,” ujarnya.

Dia berharap kepada Gubernur DKI untuk mengkaji ulang perencanaan ini karena sangat berdampak pada pengusaha restoran di sepanjang Jalan Juanda.***

Berita Terkait

BNSP dan BNPT Bahas Mekanisme Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Auditor Pelindungan Infrastruktur Vital
Antusiasme Tinggi di Pelatihan Auditor SMM, 40 Peserta LSP Dapatkan Ilmu dan Keterampilan di Hotel Mercure
BNSP dan Kementerian PUPR Sepakati Strategi Baru untuk Percepatan Sertifikasi Kompetensi di Bidang Konstruksi
Kompetensi Pustakawan Penting Dalam Peningkatan Kualitas Layanan Perpustakaan
Oknum Ketua RT Ditangkap Polisi, Diduga Lakukan Pencabulan dan Pelecehan Seksual di Kawasan Kemayoran
PMAI Gelar Webinar Master Asesor: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan di Antara Anggota
LSP PAMA dibawah naungan ASTRA Group Jadi Tuan Rumah Diskusi Penting seputar LSP bersama BNSP
BNSP: Penyerahan Sertifikat Lisensi oleh Ketua BNSP ke Universitas Pertahanan RI
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Kamis, 18 Juli 2024 - 12:04 WIB

BNSP dan BNPT Bahas Mekanisme Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Auditor Pelindungan Infrastruktur Vital

Jumat, 28 Juni 2024 - 19:37 WIB

Antusiasme Tinggi di Pelatihan Auditor SMM, 40 Peserta LSP Dapatkan Ilmu dan Keterampilan di Hotel Mercure

Senin, 24 Juni 2024 - 19:21 WIB

BNSP dan Kementerian PUPR Sepakati Strategi Baru untuk Percepatan Sertifikasi Kompetensi di Bidang Konstruksi

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:56 WIB

Kompetensi Pustakawan Penting Dalam Peningkatan Kualitas Layanan Perpustakaan

Senin, 10 Juni 2024 - 13:27 WIB

Oknum Ketua RT Ditangkap Polisi, Diduga Lakukan Pencabulan dan Pelecehan Seksual di Kawasan Kemayoran

Sabtu, 11 Mei 2024 - 19:01 WIB

PMAI Gelar Webinar Master Asesor: Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan di Antara Anggota

Kamis, 9 Mei 2024 - 17:56 WIB

LSP PAMA dibawah naungan ASTRA Group Jadi Tuan Rumah Diskusi Penting seputar LSP bersama BNSP

Kamis, 25 April 2024 - 13:12 WIB

BNSP: Penyerahan Sertifikat Lisensi oleh Ketua BNSP ke Universitas Pertahanan RI

Berita Terbaru