Menu

Mode Gelap
Kasus Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi, Polda Jatim Sita 279,45 Ton Pupuk Rakyat Jangan Terjebak dalam Design Fitnah dan Provokasi yang Dikelola oleh Mafia Prabowo Didoakan Jadi Pemimpin Indonesia Saat Silaturahmi dengan Kyai Ahmad Saidi 20 Plus Media Online FSMN Siap untuk Publikasikan Aksi Korporasi dan Kegiatan Politik Anda Selama Lebaran, Uang Beredar di Lini Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Capai Rp72 Triliun

Politik · 4 Apr 2022 09:18 WIB ·

Mahasiswa adalah Harapan bagi Perubahan, dan Petaka bagi Keserakahan Kekuasaan


					Presiden Joko Widodo beraudiensi dengan 12 organisasi mahasiswa. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet) Perbesar

Presiden Joko Widodo beraudiensi dengan 12 organisasi mahasiswa. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

ARAH NEWS – Kehadiran 12 organisasi kemahasiswaan yang dikenal sebagai kelompok Cipayung plus ke Istana Negara disesalkan oleh banyak pihak.

Publik menilai kooptasi Istana atas gerakan mahasiswa. Skeptisme peran mahasiswa terhadap perubahan sosial dan politik kini menjadi semakin dalam.

Benarkah 12 organisasi yang diwakili pimpinannya itu merepresentasikan gerakan kemahasiswaan secara keseluruhan? Tentu tidak.

Sebagaimana kultur a-demokrasi yang melekat hampir pada umumnya organisasi, maka kedatangan pimpinan organisasi kemahasiswaan kelompok Cipayung ke Istana tersebut hanya “permainan” pimpinan semata.

Pragmatisme sesaat. Diduga ada koordinator proyek audiensi ke Istana tersebut. Sulit diterima akal sehat jika begitu lembek dan membebeknya mahasiswa.

Organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung plus bukan wajah mahasiswa sesungguhnya tetapi polesan permain panggung yang sedang membawa gerbong kosong. Penumpang kendaraan tidak disana tetapi di tempat lain.

Baca Juga:  Gerindra Siap Menangkan Prabowo Presiden, Muzani: Jatim Potensi Jadi Basis Kemenangan

Tersenyum atas “bodoran” Rocky Gerung yang menyatakan bahwa yang namanya mahasiswa itu memakai jaket almamater, jika memakai batik maka itu namanya calo.

Mahasiswa yang menghadap Presiden berbaju batik. Mungkin pembagian koryek, koordinator proyek.

Di luar sana idealisme mahasiswa masih tinggi dan tidak dapat terbeli. Mereka dididik untuk selalu menjadi agen dari perubahan.

Setiap perubahan sosial ditengarai bukan saja mahasiswa hadir tetapi juga terdepan. Jika tiarap atau gerak lambat itu hanya sesaat dan tidak untuk selamanya.

Ketika politik membusuk, penguasa semakin sewenang-wenang, dan represivitas meningkat, maka itulah momen mahasiswa bergerak cepat. Tanpa perlu rekayasa untuk mengendalikan perjuangannya.

BEM Seluruh Indonesia melakukan aksi pada 28 Maret 2022 di area Patung Kuda untuk menyampaikan aspirasi persoalan sembako hingga perpanjangan jabatan Presiden tiga periode.

Baca Juga:  Alasan PSI Mengambil Posisi Sebagai Partai Politik yang Sering Disebut Aneh

Barikade kawat berduri menghalangi keinginan mahasiswa untuk mendekati istana “Joko Widodo, rakyat memanggilmu” seru mahasiswa dari mobil komando.

Mungkin maksudnya agar Pak Jokowi segera dipanggil menjadi rakyat kembali.

Paling mutakhir adalah aksi mahasiswa1 April 2022. Sebanyak 800 an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berunjuk rasa menolak penundaan Pemilu.

Meski berusaha bergerak ke depan istana tetapi aparat menghalangi sehingga hanya berdemonstrasi di area dekat Istana saja.

Dalam salah satu orasi diteriakan “Jokowi fasis, anti demokrasi”. Rupanya dengan profil lugu, rakyat terkecoh oleh kebijakan semaunya ala fasisme.

Dari omnibus law, IKN hingga penundaan Pemilu atau bahkan skenario perpanjangan tiga periode. Ada juga teriakan “revolusi”.

Nafas pergerakan mahasiswa menguat. Terus menggumpal dan dapat meledak pada waktunya. Berpadu dengan elemen perjuangan buruh dan kekuatan umat Islam.

Baca Juga:  Ahmad Riza Patria Disebut Gerindra Sebagai Kader Terbaik untuk Calon Gubernur DKI Jakarta

Jika status quo tetap bergaya kepemimpinan seperti ini, maka bukan mustahil dapat didobrak oleh tiga pilar kekuatan itu.

Upaya serius untuk memperpanjang masa jabatan Presiden Jokowi akan menjadi pemicu dan duet Jokowi-Luhut Binsar Panjaitan pantas mendapat “award” sebagai “trouble maker” bangsa.

Mahasiswa adalah harapan bagi perubahan, petaka bagi keserakahan pemegang kekuasaan.

Berisiknya adalah tahap untuk berbicara dan bergerak di waktu yang tepat. Geliatnya adalah sinyal untuk perubahan yang semakin mendekat.

Mereka tahu bahwa negara hancur itu bukan karena orang jahat berkuasa akan tetapi karena orang baik yang diam.

Diam itu “non minus stultum quam impium”–tidak kalah bodohnya dengan jahat !

Opini: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.*

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Rakyat Jangan Terjebak dalam Design Fitnah dan Provokasi yang Dikelola oleh Mafia

9 Mei 2022 - 10:10 WIB

Prabowo Didoakan Jadi Pemimpin Indonesia Saat Silaturahmi dengan Kyai Ahmad Saidi

6 Mei 2022 - 10:36 WIB

Mengapa Jokowi Tak Shalat Bersama Menteri dan Pejabat Tinggi Lain di Masjid Istiqlal?

5 Mei 2022 - 08:08 WIB

Insya Allah 2024, Gus Dur Sempat Bilang Pak Prabowo Jadi Presiden di Usia Tua

4 Mei 2022 - 23:22 WIB

Kunjungi Jatim, Prabowo Silaturahmi ke Pondok Pesantren Walisongo dan Al-Qodiri

3 Mei 2022 - 18:38 WIB

Alasan PSI Mengambil Posisi Sebagai Partai Politik yang Sering Disebut Aneh

3 Mei 2022 - 09:45 WIB

Trending di Politik