Menu

Mode Gelap
Kasus Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi, Polda Jatim Sita 279,45 Ton Pupuk Rakyat Jangan Terjebak dalam Design Fitnah dan Provokasi yang Dikelola oleh Mafia Prabowo Didoakan Jadi Pemimpin Indonesia Saat Silaturahmi dengan Kyai Ahmad Saidi 20 Plus Media Online FSMN Siap untuk Publikasikan Aksi Korporasi dan Kegiatan Politik Anda Selama Lebaran, Uang Beredar di Lini Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Capai Rp72 Triliun

Politik · 6 Mar 2022 10:42 WIB ·

Keppres Jokowi Timbulkan Pertanyaan Publik, Mengapa Soeharto Ditenggelamkan?


					Ilustrasi Soeharto (Instagram.com/@latifmilenium) Perbesar

Ilustrasi Soeharto (Instagram.com/@latifmilenium)

ARAH NEWS – Keppres No 2 Tahun 2022 telah menuai kontroversi. Masalahnya bukan pada hari penegakan kedaulatan negara yang menjadi judul Keppres, akan tetapi soal peran-peran tokoh yang diangkat dan ditenggelamkan.

Bahwa Kepres itu bukan buku sejarah, anak SD juga tahu. Akan tetapi mengangkat satu tokoh dan menenggelamkan tokoh lain adalah tidak fair. Bagian dari penipuan sejarah.

Mahfud MD beralasan bahwa tidak perlu mencantumkan semua tokoh sejarah yang berperan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 cukup tokoh-tokoh utama penentu yang perlu dituangkan dalam konsiderans Keppres.

Munculah Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Hamengkubuwono IX dan Jenderal Soedirman. Soeharto tidak dimunculkan.

Yang dikritisi publik adalah tidak dicantumkan peran Soeharto dalam Keppres No 2 tahun 2022 tersebut yang menimbulkan pertanyaan publik mengapa Soeharto ditenggelamkan?

Baca Juga:  Alasan PSI Mengambil Posisi Sebagai Partai Politik yang Sering Disebut Aneh

Sesungguhnya satu hal yang luput untuk masuk ruang perdebatan adalah sejauh mana peran Soekarno dalam serangan tersebut?

Berlebihan dan palsukah sebutan bahwa serangan tersebut “disetujui” dan “digerakkan” oleh Soekarno dan Hatta ?

Sulit diterima adanya peran Soekarno dan Hatta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

Pemerintahan saat itu bukan di bawah kendali Soekarno dan Hatta tetapi Sjafroeddin Prawiranegara sebagai Presiden PDRI.

Soekarno sedang ditahan di Sumatera dan dalam pengawasan penuh Belanda. Tidak mungkin dapat “menyetujui” apalagi “menggerakkan”.

Dalam Naskah Akademik Keppres “Hari Penegakan Kedaulatan Negara” ternyata juga tidak ditemukan peran Soekarno dalam memberi persetujuan.

Baca Juga:  Mantan Atlit Tenis Erwin Suryadi Terpilih Sebagai Ketua Pengurus Pelti DKI

Hamengkubuwono dan Soedirman tentu tidak merasa perlu untuk mendapat “persetujuan” dari Soekarno dan Hatta karena keduanya berada di pengasingan.

Tidak logis Soekarno dapat “menggerakkan” serangan ke Yogyakarta dari area penahanan atau pengasingannya di Sumatera.

Rezim Jokowi memang sedang menghidupkan Soekarno dan membunuh Soeharto.

Contoh lain adalah pembangunan patung Soekarno di Akmil Magelang dan menghancurkan diorama penumpasan G 30 S PKI di Museum Makostrad Jakarta.

Jenderal Dudung Abdurrahman sebagai operator pembangunan patung Soekarno di Akmil sekaligus penghancur diorama Soeharto di Makostrad AD.

Jika Pemerintah Jokowi melalui Mahfud MD tetap bersikukuh pada Keppres yang cacat sejarah tersebut, maka publik tentu berharap ada koreksi.

Baca Juga:  Berbagai Argumentasi Publik Bermunculan, Menolak Logo Halal Baru Versi Kemenag

Jika tidak, tentu usai masa Pemerintahan Jokowi nanti, Keppres No 2 tahun 2022 dapat dibatalkan dan direvisi sesuai dengan peristiwa sejarahnya.

Soekarno hilang, Sjafroeddin muncul. Soeharto akan tercantum kembali bersama Hamengkubuwono IX dan Jenderal Soedirman.

Tindakan lain, patung Soekarno di Akmil Magelang jika tetap ada maka harus bersama Hatta. Sementara diorama penumpasan G 30 S PKI di Makostrad AD harus dibangun kembali.

Keppres No 2 tahun 2022 memang bukan buku sejarah, tapi rezim telah membuat dokumen sejarah sesat dengan Keppres ini.

Seolah membuktikan kalimat “history always written by the winners”. Nah, sejarah itu tidak boleh diputarbalikkan, pak Jokowi.

Opini: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan. ***

Artikel ini telah dibaca 25 kali

Baca Lainnya

Rakyat Jangan Terjebak dalam Design Fitnah dan Provokasi yang Dikelola oleh Mafia

9 Mei 2022 - 10:10 WIB

Prabowo Didoakan Jadi Pemimpin Indonesia Saat Silaturahmi dengan Kyai Ahmad Saidi

6 Mei 2022 - 10:36 WIB

Mengapa Jokowi Tak Shalat Bersama Menteri dan Pejabat Tinggi Lain di Masjid Istiqlal?

5 Mei 2022 - 08:08 WIB

Insya Allah 2024, Gus Dur Sempat Bilang Pak Prabowo Jadi Presiden di Usia Tua

4 Mei 2022 - 23:22 WIB

Kunjungi Jatim, Prabowo Silaturahmi ke Pondok Pesantren Walisongo dan Al-Qodiri

3 Mei 2022 - 18:38 WIB

Alasan PSI Mengambil Posisi Sebagai Partai Politik yang Sering Disebut Aneh

3 Mei 2022 - 09:45 WIB

Trending di Politik