Bukan Kepada Publik, Pemerintah Berpihak ke Oligarki Neolib Soal Kenaikan BBM Subdisi

- Pewarta

Senin, 5 September 2022 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani saat umumkan kenaikan harga BBM. (Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani saat umumkan kenaikan harga BBM. (Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

ARAH NEWS -Diumumkan pada weekend kemarin, terkesan keputusan kenaikan harga BBM kejar tayang.

Meski dinarasikan ada kedaruratan APBN, namun kenyataannya tidak ada kegentingan APBN yang memaksa agar BBM harus naik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menjabarkan penyesuaian harga BBM terbaru mulai Sabtu sore yaitu Harga Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter.

Harga Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter, Harga Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Kurun September-Desember 2022, konsumsi publik untuk pertalite diprediksi sekitar 10 juta KL dan untuk Solar 5 juta KL.

Anthony Budiawan, Ekonom senior memperhitungkan bahwa Kenaikan BBM tersebut diduga untuk menambah pundi-pundi APBN sebesar Rp31,75 triliun hanya untuk kurun September-Desember 2022.

Angka tersebut dari penambahan dari Selisih pertalite Rp2,350 x 10 jt KL = Rp23,5 triliun dan selisih solar Rp1,650 x 5 jt JL = Rp8,25 T; Total 23,5 T + 8,25 T = Rp31,75 T.

Bila dikurangi bantalan sosial akibat kenaikan BBM Rp24,17 triliun. APBN hanya bertambah Rp7,58 triliun.

Penambahan APBN Rp7,58 triliun ini atas beban sosial publik yaitu inflasi makanan minuman 15%, kenaikan harga transportasi 30% dan potensi ribuan orang di PHK.

Jelas sekali bahwa dampak buruknya kenaikan BBM ini lebih besar daripada sekedar tambahan APBN Rp7,58 triliun tersebut.

Apakah bila kenaikan BBM tersebut bukan untuk menyelamatkan APBN dan rakyat, lantas untuk siapa kenaikan BBM tersebut?

Sudah rahasia umum, setiap kebijakan pemerintah terkait BBM selalu diliputi berbagai kepentingan.

Masalahnya kali ini, bukan kepentingan publik yang jadi alasan melainkan kepentingan segelintir orang para oligarki-neolib.

Untuk kenaikan BBM Subsidi pada Sabtu Sore Kelabu, 3 September 2022 sangat terlihat Pemerintah melakukan kenaikan tersebut bukan untuk kepentingan publik luas melainkan kepentingan oligarki-neolib segelintir orang.

Ada lima alasan kenapa kenaikan BBM tersebut lebih berpihak kepada oligarki-neolib dibandingkan kepada publik.

Pertama, Menaikan BBM Subsidi dan Pertamax di saat Minyak Dunia Turun.

Kedua, Harga BBM Pertalite Naik, SPBU Swasta Malah Kegirangan Mendapatkan WindFall Profit.

Ketiga, Meminta SBPU yang menjual RON 89 Murah Agar Segera Menaikan Harga.

Keempat, Membayar Utang LN Rp400 Triliun per tahun tidak mengeluh, memberikan subsidi BBM ke Rakyat Sangat Keberatan dan

Kelima, Kenaikan BBM diprediksi hanya menambah APBN sekitar Rp7,58 triliun, Namun Pemerintah rela mengeluarkan biaya ibukota IKN baru tahun 2023 sebesar Rp23,6 triliun.

Pertama, Menaikan BBM Subsidi dan Pertamax di saat Minyak Dunia Turun.

Melansir data Refinitiv, Periode 1-5 September 2022 harga minyak mentah jenis brent melemah 7,89% menjadi US$ 93,02/ barel secara point-to-point.

Sedangkan yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) pada 3 September harganya ditutup di US$ 86,87/barel atau melemah 6,65% dalam sepekan.

Rata-rata harga minyak mentah Indonesia/ICP yang ditetapkan Kementerian ESDM pun sudah turun dari US$117,62 per barel pada Juni 2022 menjadi US$106,73 per barel pada Juli.

Kementerian Keuangan beralasan bahwa angka kenaikan subsidi dari Rp 502 triliun masih akan tetap naik.

Subsidi akan naik menjadi Rp 653 triliun jika harga ICP adalah rata-rata US$ 99/barel.

Sedangkan jika harga ICP sebesar US$ 85/barel sampai Desember 2022 maka kenaikan subsidi menjadi Rp 640 triliun.

Seharusnya, penurunan harga minyak dunia juga diikuti penurunan harga BBM.

Publik Amerika Serikat menikmati penurunan harga BBM selama 70 hari berturut-turut ini merupakan rekor terpanjang kedua sejak tahun 2005.

Rata-rata harga BBM reguler di AS turun menjadi USD 3,89 per galon pada Selasa (23/8), turun dari USD 4,38 sebulan lalu.

Begitu juga di negara jiran tetangga. Publik Malaysia menikmati penurunan harga minyak dunia dengan diturunkannya BBM eceran.

Kementerian Keuangan Malaysia kamis (25/8) menyampaikan harga eceran untuk bensin dengan RON97 mengalami penurunan sebesar lima sen, dari yang semula 4,35 ringgit Malaysia per liter menjadi 4,30 ringgit Malaysia per liter.

Sedangkan harga BBM RON95 tetap di harga 2,05 ringgit Malaysia per liter atau Rp 6.823 Rupiah, dan Solar seharga 2,15 ringgit Malaysia per liter atau 7.156 Rupiah.

Publik Amerika dan Malaysia sangat beruntung dan Publik Indonesia harus gigit jari.

Kedua, Harga BBM Pertalite Naik, SPBU Swasta Malah Kegirangan Mendapatkan WindFall Profit.

Dikutip CNBC Indonesia (5/9) bahwa Harga Pertalite dan kawan-kawannya resmi naik. Situasi ini justru menjadi kabar baik bagi pengelola pom bensin swasta.

Suresh Vembu, Direktur PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menjelaskan, selama ini jarak atau gap harga antara bensin Pertamina dan swasta cukup jauh.

Jika SPBU Swasta senang, namun publik sedih maka kebijakan menaikan BBM ini untuk publik atau untuk mereka.

Ketiga, Meminta SBPU yang menjual RON 89 Murah Agar Segera Menaikan Harga

Di tengah pengumuman kenaikan harga BBM terbaru yang dijual di SPBU Pertamina, di dunia maya, ramai soal pembahasan harga BBM jenisRON 89 yang dijual seharga Rp 8.900 per liter.

BBM tanpa subsidi dengan harga lebih murah dari harga Pertalite itu dijual oleh jaringan SPBU milik perusahaan swasta, SPBU Vivo.

Vivo berafiliasi dengan raksasa minyak global berbasis di Swiss. Vitol Group merupakan salah satu perusahaan penyalur BBM terbesar secara global.

Pada tahun 2021 lalu, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar 279 miliar dollar AS.

Mereka berhasil menawarkan harga RON 89 murah Rp8.900/liter karena efisiensi rantai suplainya, namun Kementerian ESDM meminta mereka menaikan harganya.

Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji diduga memerintahkan Vivo untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Tindakan tersebut sangat aneh karena bukannya senang karena sektor swasta mampu memberikan harga murah untuk publik malah dilarang berjualan murah bila tidak mereka bisa jadi mengancam izinnya.

Keempat, Membayar Utang LN Rp400 Triliun per tahun tidak mengeluh, memberikan subsidi BBM ke Rakyat Sangat Keberatan

Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2022 dijelaskan, Pemerintah harus memenuhi pembayaran bunga utang dalam RAPBN 2022 sebesar Rp 405,87 triliun.

Yang terdiri atas pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp 393,7 triliun dan Rp 12,2 triliun untuk pembayaran bunga utang luar negeri.

Pembayaran utang Rp402 triliun tersebut tidak perlu dikeluhkan. Namun memberi subsidi kepada rakyat terasa sangat berat padahal kemampuan rakyat Indonesia sangat rendah.

Kelima, Kenaikan BBM diprediksi hanya menambah pundi-pundi APBN sekitar Rp7,58 triliun

Namun Pemerintah rela mengeluarkan biaya ibukota IKN baru tahun 2023 sebesar Rp23,6 triliun.

Anehnya, dampak dari kenaikan BBM Sabtu kemarin adalah secara net hanya menambah APBN sebesar Rp7,58 triliun setelah dikurangi bantalan sosial.

Namun pemerintah rela mengeluarkan sekitar Rp23,6 triliun untuk proyek mercusuar IKN Ibukota Baru di tahun 2023.

Jelas dari kelima alasan tersebut, alasan kenaikan BBM bukan untuk publik namun untuk kepentingan segelintir oligargi-neolib.

Otak-atik pengaturan BBM tersebut adalah tidak tepat bila alasannya untuk menyelamatkan APBN, apalagi untuk mensejaterakan rakyat.

Ini tidak lain hanya untuk memberi kesempatan sebesar-besarnya agar ekosistem pasar neolib BBM terwujud dengan sempurna.

Bila sudah begitu, layakkah kita sebut Pemerintahan tersebut pro kepada rakyat?

Opini: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute dan Kepala Studi Ekonomi Politik UPN Veteran Jakarta.***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Arahnews.com, semoga bermanfaat.

Berita Terkait

BNSP Sertifikasi 149 CPMI Welder Tujuan Korea Selatan di Batam, Meningkatkan Potensi Pekerja Migran
Prabowo Subianto Tulis Artikel di Media Asing Newsweek, Sebut Kualitas Hidup Rakyat adalah Prioritas
Prabowo Subianto Bertemu Blinken di Yordania, Bahas Gencatan Senjata Permanen di Gaza
Kasus Buronan Harun Masiku, Kuasa Hukum Tanggapi Penyitaan Ponsel dan Buku Harian Hasto Kristiyanto
Masa Bebas Bersyarat Habib Rizieq Shihab Berakhir Senin, 10 Juni 2024, Hari Ini Berstatus Bebas Murni
Harun Masiku Masih Jadi Buronan, KPK Segera Periksa Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto
Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan RI – Inggris, Prabowo Terima Panglima Angkatan Bersenjata Inggris
Sosialisasi Indonesia Kompeten 2024: Meningkatkan SDM
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Sabtu, 15 Juni 2024 - 00:29 WIB

BNSP Sertifikasi 149 CPMI Welder Tujuan Korea Selatan di Batam, Meningkatkan Potensi Pekerja Migran

Kamis, 13 Juni 2024 - 10:10 WIB

Prabowo Subianto Tulis Artikel di Media Asing Newsweek, Sebut Kualitas Hidup Rakyat adalah Prioritas

Rabu, 12 Juni 2024 - 15:34 WIB

Prabowo Subianto Bertemu Blinken di Yordania, Bahas Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Senin, 10 Juni 2024 - 09:17 WIB

Masa Bebas Bersyarat Habib Rizieq Shihab Berakhir Senin, 10 Juni 2024, Hari Ini Berstatus Bebas Murni

Kamis, 6 Juni 2024 - 13:33 WIB

Harun Masiku Masih Jadi Buronan, KPK Segera Periksa Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto

Jumat, 31 Mei 2024 - 13:30 WIB

Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan RI – Inggris, Prabowo Terima Panglima Angkatan Bersenjata Inggris

Jumat, 17 Mei 2024 - 18:49 WIB

Sosialisasi Indonesia Kompeten 2024: Meningkatkan SDM

Rabu, 15 Mei 2024 - 16:13 WIB

Al Jazeera Bincang Santai Bersama dengan Prabowo Subianto, Mulai dari Bahas Buku hingga Keluarga

Berita Terbaru