Krisis Iklim Tekan PLTN Eropa, Sistem Energi Perlu Investasi Triliunan

Cuaca panas sebabkan reaktor nuklir terganggu, permintaan listrik melonjak. Uni Eropa butuh infrastruktur baru agar tak kolaps saat suhu ekstrem datang lagi.

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 4 Agustus 2025 - 10:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PLTN Swiss dan Prancis hentikan operasi sementara karena suhu air naik drastis, soroti lemahnya kesiapan energi menghadapi krisis iklim. (Pixabay.com /JamesQube)

PLTN Swiss dan Prancis hentikan operasi sementara karena suhu air naik drastis, soroti lemahnya kesiapan energi menghadapi krisis iklim. (Pixabay.com /JamesQube)

LONJAKAN suhu udara di Eropa membawa dampak serius terhadap stabilitas energi kawasan.

Beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terpaksa mengurangi kapasitas bahkan berhenti beroperasi sementara.

Faktor utama penyebabnya adalah kesulitan dalam proses pendinginan reaktor akibat suhu air yang terlalu tinggi.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data menunjukkan, gelombang panas yang terjadi sejak akhir Juni telah mendorong konsumsi listrik melonjak drastis.

Ironisnya, saat permintaan listrik memuncak, pasokan justru mengalami tekanan dari sisi produksi.

PLTN Terganggu, Air Sungai Tak Lagi Dingin

PLTN di Prancis dan Swiss menjadi contoh konkret dampak langsung dari krisis suhu.

Sistem pendinginan reaktor nuklir sangat bergantung pada air sungai atau danau di sekitarnya.

Namun, cuaca panas ekstrem membuat suhu air naik hingga tidak lagi optimal untuk menyerap panas reaktor.

Akibatnya, sebanyak 17 dari 18 PLTN di Prancis harus menurunkan kapasitas produksi secara signifikan.

Beberapa bahkan menghentikan operasi untuk sementara waktu demi mencegah risiko keamanan reaktor.

Pemakaian AC Jadi Biang Lonjakan Konsumsi

Kenaikan suhu membuat masyarakat Eropa bergantung pada pendingin ruangan secara masif.

Menurut data Eurelectric, selama periode 23 Juni hingga 3 Juli, permintaan listrik melonjak hingga 7,5 persen di Uni Eropa.

Khusus di Spanyol, lonjakan konsumsi listrik mencapai 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Juni 2025 tercatat sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah pengamatan iklim di benua Eropa.

Penggunaan AC secara masif mendorong permintaan listrik melebihi kapasitas pembangkitan di beberapa wilayah.

Sistem Energi Eropa Menua dan Rawan Guncang

Masalah bukan hanya pada pembangkit, tapi juga pada infrastruktur jaringan listrik yang mulai kedaluwarsa.

Menurut laporan Reuters, pejabat Eropa menyebutkan sistem kelistrikan kawasan membutuhkan investasi triliunan dolar.

Modernisasi dibutuhkan agar mampu menampung peningkatan kapasitas energi hijau dan merespons lonjakan permintaan.

“Tanpa intervensi serius, Eropa berisiko mengalami pemadaman yang meluas,” kata pejabat Uni Eropa yang dikutip Financial Times.

Kapasitas penyimpanan energi juga masih terbatas untuk menopang fluktuasi daya selama gelombang panas.

Ancaman Berulang Jika Krisis Iklim Tak Terkendali

Kondisi ini memberi peringatan serius bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga persoalan ketahanan energi.

Tanpa strategi adaptasi yang kuat, Eropa bisa menghadapi krisis listrik berulang di masa depan.

Kenaikan suhu ekstrem dan kekeringan mengancam keandalan pembangkitan energi nuklir dan hidro yang selama ini diandalkan.

Transformasi energi hijau pun membutuhkan sistem penyimpanan dan distribusi yang lebih tangguh dan fleksibel.

Investasi di sektor energi bersih harus diiringi dengan kesiapan infrastruktur menghadapi ekstremitas iklim yang makin sering terjadi.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Arahbisnis.com dan Belanjaoke.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Delapannews.com dan Apakabarindonesia.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Heijakarta.com dan Hallopapua.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Amerika Serikat Klaim Damai Di Kashmir, Aktivis: Kami Tetap Jadi Korban
Pangeran Al-Waleed Wafat, Arab Saudi Tegaskan Komitmen pada Stabilitas
10 Perusahaan Amerika Serikat Dilarang Lakukan Aktivitas Ekspor dan Impor dengan Tiongkok, Ini Alasannya
Jimmy Carter Meninggal Dunia, Presiden Tiongkok Xi Jingping Sampaikan Pesan Belasungkawa
Azerbaijan Airlines Bawa Terbang 69 Penumpang Jatuh di Dekat Kota Aktau, Penyebabnya Masih Simpang Siur
FBI Sebut Tersangka Penembak Donald Trump Telah Terpantau Lebih dari Satu Jam Sebelum Kejadian
Calonkan Diri Sebagai Presiden AS Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris Nyatakan Siap
Insiden Penembakan Ayahnya Saat Sedang Kampanye di Butler Pennsylvania, Ivanka Trump Beri Respons

Berita Terkait

Senin, 4 Agustus 2025 - 10:46 WIB

Krisis Iklim Tekan PLTN Eropa, Sistem Energi Perlu Investasi Triliunan

Senin, 21 Juli 2025 - 13:09 WIB

Amerika Serikat Klaim Damai Di Kashmir, Aktivis: Kami Tetap Jadi Korban

Senin, 21 Juli 2025 - 08:21 WIB

Pangeran Al-Waleed Wafat, Arab Saudi Tegaskan Komitmen pada Stabilitas

Senin, 6 Januari 2025 - 09:02 WIB

10 Perusahaan Amerika Serikat Dilarang Lakukan Aktivitas Ekspor dan Impor dengan Tiongkok, Ini Alasannya

Rabu, 1 Januari 2025 - 11:21 WIB

Jimmy Carter Meninggal Dunia, Presiden Tiongkok Xi Jingping Sampaikan Pesan Belasungkawa

Berita Terbaru