ARAHNEWS.COM – Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie mengatakan reshuffle atau perombakan kabinet sah saja dilakukan Presiden Jokowi.

Khususnya terhadap menteri yang memiliki kinerja buruk, terlebih dengan ancaman resesi yang diprediksi pada tahun 2023.

“Dengan ukuran-ukuran yang jelas, artinya kinerja memang buruk dan tahun ini katanya tahun resesi.”

“Tahun krisis maka kita butuh orang-orang yang punya kinerja yang bagus,” kata Grace usai puncak HUT Ke-8 PSI di Jakarta Pusat, Selasa, 31 Januari 2023.

Baca konten dengan topik ini, di sini: Tak Hadiri Rapat Penanganan Kenaikan Harga Beras di Istana, Mentan Syahrul Yasin Limpo Disorot

Selain potensi terjadinya resesi, Grace menyebut periode kepemimpinan Presiden Jokowi pun hanya bersisa satu tahun lagi berakhir.

Sehingga tak banyak opsi yang bisa diambilnya untuk menggenjot kinerja menteri yang memang dinilainya buruk.

“Waktu Presiden sudah tidak banyak lagi. Kalau saja ada menteri yang kinerja-nya buruk, rasanya memang buat apalagi kita tahan-tahan,” ujarnya.

Ia lantas menganalogikan perusahaan start-up yang dinamis untuk dapat menyesuaikan dengan kondisi pasar.

“Apalagi perusahaan publik yang terbuka yang cepat kayak start-up, itu cepat banget pergantian pemainnya supaya kita bisa keep up dengan kebutuhan pasar,” ucapnya.

Terlebih, kata Grace, apabila ada menteri yang terseret dengan kasus korupsi sehingga dapat berimplikasi pada persepsi publik atas kabinet secara keseluruhan.

Meski demikian ia menegaskan bahwa keputusan reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden.

“Jadi yang kinerja buruk, apalagi yang terbukti mencuri yang bukan haknya rasanya untuk apa dipertahankan.”

“Itu masyarakat juga akan kecewa, nanti dampaknya semua kabinet yang diprotes.”

“Jadi kalau emang kinerja-nya buruk kenapa harus ditahan-tahan,” tuturnya.

Sebelumnya Presiden Jokowi, Minggu (29/1), meminta semua pihak untuk menunggu saja mengenai reshuffle kabinet.***