Menyelamatkan Hutan, Lembah, dan Kampung dari Cengkeraman Bencana 2025

Relawan, petugas, dan warga bergotong-royong menghadapi dampak El Niño pada bentang alam Indonesia.

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 14 Juli 2025 - 14:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir dan mengakibatkan rumah terendam di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. (Dok. BPBD Kabupaten Sinjai)

Banjir dan mengakibatkan rumah terendam di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. (Dok. BPBD Kabupaten Sinjai)

MUSIM kemarau yang datang lebih panas dan panjang pada pertengahan 2025 memperlihatkan bagaimana bumi Nusantara kembali rentan terhadap bencana.

Sepanjang awal Juli, rangkaian kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, banjir, hingga angin kencang melanda sejumlah provinsi.

Dari perbukitan curam Sumatera Barat, lembah terisolasi Sinjai di Sulawesi Selatan, hingga kampung-kampung di Gorontalo.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama masyarakat berjuang melawan dampak anomali iklim yang kian nyata.

“Rekayasa cuaca terus kami lakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan curah hujan buatan bisa membantu daerah-daerah rawan,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data BNPB.

Di balik data-data bencana ini terselip kisah ketangguhan manusia dan upaya kolektif menyelamatkan lingkungan hidup.

Tim media ini merangkum situasi terkini dari lokasi-lokasi terdampak bencana yang merefleksikan tantangan besar mitigasi bencana di era perubahan iklim.

Kebakaran di Tebing Curam Harau Gambarkan Rapuhnya Lanskap Alam Sumatera

Pekan ini, api menjilat tebing curam di Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Sekitar satu hektar hutan dan lahan terbakar sejak Kamis malam, 10 Juli, pukul 20.00 WIB.

Asap putih pekat menyelimuti lembah ikonik Harau, yang dikenal sebagai salah satu lanskap paling fotogenik Sumatera.

Pemadaman berlangsung sulit karena titik api berada di kemiringan terjal yang nyaris tak terjangkau kendaraan pemadam.

“Tim kami hanya bisa membawa pompa portabel dan memanjat bukit, dibantu warga,” ujar salah seorang petugas BPBD setempat. Api masih tersisa hingga Sabtu pagi.

Tak hanya di Harau, kebakaran juga melahap lahan gambut dan semak belukar di Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Di sana, 9 hektar lahan terbakar di dua kecamatan pada 11 Juli, namun cepat berhasil dipadamkan berkat koordinasi masyarakat.

Potensi kerusakan ekologis dari karhutla bukan sekadar abu dan asap, melainkan juga hilangnya flora endemik dan gangguan bagi satwa liar.

Fenomena karhutla ini kembali mengingatkan akan pesan penelitian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa kemarau 2025 lebih panas karena pengaruh El Niño Modoki, meningkatkan risiko titik api sejak awal Juli.

BNPB pun kembali mengingatkan pentingnya pentaheliks—peran bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat—dalam pencegahan dini.

Longsor Terus Isolasi Kampung-Kampung di Sinjai, Sulawesi Selatan

Sementara di ujung selatan Sulawesi, longsor besar terjadi sejak Sabtu 5 Juli di Kabupaten Sinjai.

Tanah basah yang tak lagi mampu menopang diri setelah diguyur hujan deras, runtuh menutup jalan-jalan desa.

Hingga Jumat, 11 Juli 2025, jalan utama di Desa Kompang masih tertutup material longsor, membuat Kampung Lampara dan Parigi terisolasi.

“Sudah hampir seminggu kami belum bisa mengakses kampung itu lewat jalur darat,” lapor seorang anggota tim BNPB yang berada di lokasi, dikutip dari siaran resmi BNPB.

Di kecamatan lain, jalur penghubung Songing-Polewali juga lumpuh. Total ada 20 desa dan 3 kelurahan di 6 kecamatan terdampak longsor.

Tim BNPB mendampingi pemerintah kabupaten melakukan evakuasi dan membuka akses jalan darurat.

Namun tantangan terbesar adalah kondisi tanah yang masih labil, memaksa petugas bekerja dengan penuh kehati-hatian.

Menurut pakar geologi, longsor di daerah ini memang kerap terjadi pada tanah laterit yang mudah jenuh air, diperparah oleh deforestasi di lereng-lereng pegunungan.

Banjir dan Angin Kencang di Timur Indonesia, Menguji Kesiapsiagaan Komunitas Lokal

Tak hanya tanah longsor, banjir juga menyapu kampung-kampung di Luwu Timur dan Gorontalo setelah hujan deras pada Kamis, 10 Juli 2025.

Di Luwu Timur, banjir cepat surut namun sempat merendam satu desa dan memaksa 40 kepala keluarga mengungsi.

Di Gorontalo, tanggul Sungai Marisa jebol menyebabkan banjir di lima desa, berdampak pada 218 jiwa dan merendam fasilitas umum.

Di ujung barat, tepatnya Kabupaten Aceh Utara, angin kencang memporak-porandakan 23 rumah warga, ruko, fasilitas kesehatan, serta tenda-tenda darurat. Sebanyak 275 jiwa terdampak.

“Kami sudah menyalurkan logistik ke gampong-gampong terdampak,” ujar Kepala Dinas Sosial Aceh Utara dalam keterangannya kepada media lokal.

Bencana hidrometeorologi basah seperti ini kerap terjadi di tengah musim kemarau karena anomali cuaca, memperlihatkan bahwa risiko bencana tak hanya datang dari panas, tetapi juga dari pola hujan yang tak menentu

Konservasi Lingkungan Sebagai Jawaban Jangka Panjang Mitigasi Bencana

Rangkaian bencana awal Juli ini adalah cermin rapuhnya keseimbangan ekosistem kita di hadapan perubahan iklim. Karhutla merenggut hutan, longsor menghancurkan kampung, banjir menyapu sawah.

Semua itu saling terkait dengan tekanan manusia pada alam: alih fungsi lahan, penebangan liar, pembangunan tak terkendali.

“Pencegahan lebih penting daripada reaksi, karena upaya pemadaman akan jauh lebih mahal dan sulit bila titik api sudah meluas,” tegas Abdul Muhari dalam rilis resmi BNPB.

Pernyataan serupa disuarakan oleh BMKG dalam laman resminya, mengimbau masyarakat untuk mewaspadai fenomena El Niño yang memperparah kemarau.

Sebagai bangsa kepulauan yang kaya keanekaragaman hayati, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk melestarikan ekosistemnya sebagai benteng alami dari bencana.

Menghidupkan kembali hutan sebagai penyerap karbon, memperkuat vegetasi penahan longsor, dan menjaga sempadan sungai adalah investasi nyata bagi masa depan yang lebih aman.

Bagi para relawan yang berpeluh memadamkan api di bukit curam atau menggali lumpur di lembah Sinjai.

Mereka tak hanya melindungi kampung halaman, tetapi juga menjaga warisan alam Nusantara untuk generasi mendatang.

Seperti kata seorang relawan di Padang Lawas: “Hutan ini bukan hanya pohon, tapi juga kehidupan kami.”****

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Kongsinews.com dan Hilirisasinews.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Halloup.com dan Halloupdate.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Jatimraya.com dan Hellocianjur.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Bencana Alam Indonesia 2025: Ujian Nyata Ketahanan Sosial dan Ekologi
Dugaan Pengeroyokan Tahanan Kasus Pencabulan Anak, Polisi Usut Kelalaian Petugas Jaga Polresta Denpasar
Ridwan Kamil Absen Sidang Mediasi Lisa Mariana: Alasan Hukum vs Tuntutan Kehadiran Langsung
Gunung Marapi Meletus Lagi, PVMBG Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik dan Potensi Lahar Dingin

Berita Terkait

Kamis, 17 Juli 2025 - 10:44 WIB

Bencana Alam Indonesia 2025: Ujian Nyata Ketahanan Sosial dan Ekologi

Senin, 14 Juli 2025 - 14:11 WIB

Menyelamatkan Hutan, Lembah, dan Kampung dari Cengkeraman Bencana 2025

Sabtu, 7 Juni 2025 - 08:29 WIB

Dugaan Pengeroyokan Tahanan Kasus Pencabulan Anak, Polisi Usut Kelalaian Petugas Jaga Polresta Denpasar

Kamis, 5 Juni 2025 - 13:09 WIB

Ridwan Kamil Absen Sidang Mediasi Lisa Mariana: Alasan Hukum vs Tuntutan Kehadiran Langsung

Sabtu, 31 Mei 2025 - 15:31 WIB

Gunung Marapi Meletus Lagi, PVMBG Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik dan Potensi Lahar Dingin

Berita Terbaru