Isu Imigran di Amerika Serikat dan Perang Terbuka Antara Demokrat VS Republik

- Pewarta

Senin, 19 September 2022 - 16:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isu Imigran di Amerika Serikat dan Perang Terbuka Antara Demokrat VS Republik

Isu Imigran di Amerika Serikat dan Perang Terbuka Antara Demokrat VS Republik

ARAH NEWS – Isu Imigran merupakan isu domestik Amerika Serikat yang mengemuka di masa presiden Donald Trump berkuasa.

Amerika Serikat sendiri adalah negara besar tempat tujuan banyak warga dunia untuk mengejar mimpi mimpinya disebut sebagai American Dream.

Terkait para Imigran di Amerika Serikat ini sebagian pihak di Amerika menganggap masuknya banyak imigran ke negeri Paman Sam ini memunculkan banyak masalah.

Dari masalah persaingan kesempatan kerja, masalah budaya dan agama yang di bawa para imigran yang kerap terjadi gesekan dengan masyarakat asli Amerika Serikat sampai muncul nya banyak kriminalitas yang ditimbulkan dari para imigran ini.

Donald Trump ketika maju menjadi presiden Amerika Serikat yang akhirnya terpilih mengangkat masalah imigran ini menjadi kampanye politiknya.

Salah satu slogan kampanye Trump American First dan Makes Amerika Great Again adalah kebijakan pembatasan Imigran yang akan masuk ke Amerika dan lebih mendahulukan kepentingan penduduk asli Amerika dibanding kaum imigran atau pendatang di Amerika.

Soal American First dan ‘Make America Great Again’, Trump berhasil menarik suara penduduk AS kala itu. Ia menjadi presiden ke-45 AS dan menjabat pada periode 2017-2021.

Pembatasan masuknya kaum imigran ke Amerika Serikat yang mengacu pada tiga kebijakan yaitu kebijakan nasionalisme, kebijakan anti-imigran dan kebijakan anti-muslim.

Ketiganya juga didukung oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada era Trump yang lebih menekankan pada isolasionisme dan proteksionisme;

Sesuai dengan slogan kampanye Trump American First, yaitu; Make America Great Again yang diaplikasikan ke berbagai kebijakannya.

Kebijakan politik Trump yang dianggap anti Imigran terutama imigran yang berasal dari negara negara muslim ini banyak dikritisi oleh banyak pihak di dalam negeri Amerika sendiri.

Karena kebijakan ini dianggap menciptakan pembelahan dan segregasi di Amerika Serikat yang selama ini tidak terjadi.

Amerika yang merupakan kampung global adalah negara yang terbuka oleh siapa pun warga dunia untuk datang ke Amerika mewujudkan American Dream nya tapi dengan tetap menjalankan dan menaati aturan dan konstitusi Amerika Serikat.

Dengan bergantinya presiden dari Trump ke Biden sepertinya kebijakan anti Imigran ini sudah mulai berkurang.

Bahkan Biden sendiri memilih seorang wakil presiden yang merupakan seorang Imigran yaitu Kamala Haris.

Amerika sebagai sebuah negara yang sudah maju peradaban nya harusnya tidak menggunakan isu isu rasialis untuk mendapat kan dukungan politik.

Isu Imigran ini tentunya tidak sesuai dengan identitas Amerika Serikat sendiri sebagai bangsa yang terbuka dengan global citizensip untuk masuk ke dalam Amerika dan memajukan Amerika Serikat.

Masalah imigran di Amerika memanas kembali pada pekan lalu dimana Gubernur Texas Greg Abbott mengirimkan dua bus berisi migran menuju rumah Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris. Mereka adalah imigran ilegal yang masuk ke Texas.

Pengiriman bus imigran ilegal ini merupakan bentuk protes dari negara bagian Texas yang berada di perbatasan.

Meski ada masalah imigran ilegal, Wapres AS Kamala Harris sempat memberi klaim bahwa keadaan di perbatasan baik-baik saja.

Para migran itu ada yang berasal dari Venezuela, Uruguay, Kolombia, dan Meksiko. Saat ditanya Fox News, para migran itu berpikir AS punya kebijakan perbatasan terbuka.

Dua bus itu berangkat dari Del Rio, Texas, kemudian menurunkan para imigran ilegal di dekat kediaman Wapres Harris di Naval Observatory, Washington DC, Kamis (15/9).

Wapres Harris ogah berkomentar mengenai hal tersebut. Para migran lantas dibawa ke gereja oleh organisasi Sanctuary DMV.

Gubernur Texas Greg Abbott mengirimkan dua bus berisi migran menuju rumah Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris. Mereka adalah imigran ilegal yang masuk ke Texas.

Pengiriman bus imigran ilegal ini merupakan bentuk protes dari negara bagian Texas yang berada di perbatasan.

Meski ada masalah imigran ilegal, Wapres AS Kamala Harris sempat memberi klaim bahwa keadaan di perbatasan baik-baik saja.

Dilaporkan Fox News, Jumat (16/9/2022), ini bukan pertama kalinya Gubernur Texas mengirim para imigran ilegal ke wilayah ibu kota.

Terkini, ada lebih dari 100 orang yang dikirim oleh Gubernur Texas Greg Abbott. Mereka dikumpulkan di Eagle Pass, Texas.

Para migran itu ada yang berasal dari Venezuela, Uruguay, Kolombia, dan Meksiko. Saat ditanya Fox News, para migran itu berpikir AS punya kebijakan perbatasan terbuka.

Dua bus itu berangkat dari Del Rio, Texas, kemudian menurunkan para imigran ilegal di dekar kediaman Wapres Harris di Naval Observatory, Washington DC, Kamis (15/9).

Wapres Harris ogah berkomentar mengenai hal tersebut. Para migran lantas dibawa ke gereja oleh organisasi Sanctuary DMV.

Langkah serupa juga dilakukan Gubernur Florida Ron DeSantis. Ia bahkan menerbangkan para imigran ilegal dengan pesawat menuju kawasan elit Martha’s Vineyard pada Rabu (14/9).

Sementara, Wali Kota Washington DC, Muriel Bowser, menyebut kedatangan para migran tersebut memicu krisis kemanusiaan di wilayahnya.

Bowser menyindir pemerintah federal yang belum membantu DC, namun ia menyampaikan akan berusaha sebaik mungkin.

Ucapan Wapres Kamala Harris menuai kontroversi karena tak sesuai dengan pendirian Kamala Harris sebelum berkuasa.

Dulu, Kamala Harris menentang posisi Presiden Donald Trump yang memiliki posisi garis keras terhadap imigran ilegal.

Kini, juru bicara Gedung Putih memberikan klarifikasi bahwa ucapan Kamala Harris terkait sistem pencari suaka di AS yang masih dibenahi.

“Apa yang wakil presiden sampaikan adalah ada banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan karena kita tak punya sistemnya,” ujar jubir Gedung Putih Jen Psaki, dikutip Rabu (9/6/2021).

“Kita perlu lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan agar memastikan proses suakanya seperti seharusnya,” kata Psaki.

Ini bukan pertama kali Jen Psaki menyebut sistem sebagai alasan. Ia juga sempat menyiratkan kesalahan ke pemerintahan Donald Trump yang dituding tak membuat sistem terkait imigrasi yang mumpuni.

Beberapa hari sebelum para migran dikirim ke rumahnya, Wapres Harris sempat mengklaim bahwa perbatasan negaranya dalam keadaan aman. Ucapannya itu menuai kontroversi karena dianggap tak sesuai realitas.

Pada wawancara Meet the Press bersama NBC, Kamala Harris berkata sistem imigrasi rusak di era Presiden Donald Trump.

“Perbatasan aman, tetapi kita memiliki sistem imigrasi yang rusak, terutama dalam empat tahun terakhir sebelum kami menjabatani, dan ini perlu diperbaiki,” ujar Kamala Harris.

Masalah imigran ini telah menjadi perang terbuka antara Partai Demokrat yang saat ini berkuasa dengan Partai Republik.

Wapres Kamala Haris dianggap tidak konsisten ucapan dan kebijakannya.

Ketika belum menjadi wapres AS Harris kerap menyerang kebijakan Donald Trump yang anti terhadap imigran.

Sehingga ketika saat ini dia berkuasa walikota dan Gubernur dari partai Republik banyak yang kemudian mencemooh.

Dan melakukan tindakan tindakan protes terhadap para imigran terhadap Kamala, salah satunya dengan mengantarkan puluhan imigran ke dekat kediaman Kamala.

Jika permasalahan ini tidak segera dicari solusi nya maka kondisi Amerika Serikat akan memanas di dalam negerinya.

Dan ini tentunya akan menjadi ancaman baru bagi dunia yang masih dalam tahap pemulihan akibat Pandemi,inflasi dan resesi.

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute.***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Arahnews.com, semoga bermanfaat.

Berita Terkait

Ambil Tindakan yang Lebih Defensif Terhadap Israel; Militer Republik Islam Iran Nyatakan Tak Ragu
BNSP Perkuat Kolaborasi Sertifikasi Profesi dengan KJRI dan LPK Migran Hongkong dan Macau
59 Orang Pengusaha Miliarder Dunia di Bawah 40 Tahun, Sebanyak 18 Pengusaha dari Tiongkok
Benarkah Ada Peran Zelensky Di Balik Teka Teki Rudal yang Jatuh di Polandia?
Konflik Menelan Banyak Korban di Pihak Palestina, Two States Solution adalah Ide yang Realistis
Presiden Cina Xi Jinping Diisukan Jadi Tahanan Rumah dan Dikudeta oleh Pihak Militer, Benarkah?
Kabar Duka dari Keluarga Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II Meninggal Dunia di Usia 96 Tahun
Inilah Daftar Negara Terindah Sedunia, Ternyata Indonesia yang Jadi Juara!
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Senin, 15 April 2024 - 15:45 WIB

Ambil Tindakan yang Lebih Defensif Terhadap Israel; Militer Republik Islam Iran Nyatakan Tak Ragu

Jumat, 22 Desember 2023 - 19:56 WIB

BNSP Perkuat Kolaborasi Sertifikasi Profesi dengan KJRI dan LPK Migran Hongkong dan Macau

Senin, 10 April 2023 - 11:27 WIB

59 Orang Pengusaha Miliarder Dunia di Bawah 40 Tahun, Sebanyak 18 Pengusaha dari Tiongkok

Jumat, 18 November 2022 - 07:05 WIB

Benarkah Ada Peran Zelensky Di Balik Teka Teki Rudal yang Jatuh di Polandia?

Jumat, 30 September 2022 - 07:11 WIB

Konflik Menelan Banyak Korban di Pihak Palestina, Two States Solution adalah Ide yang Realistis

Kamis, 29 September 2022 - 11:59 WIB

Presiden Cina Xi Jinping Diisukan Jadi Tahanan Rumah dan Dikudeta oleh Pihak Militer, Benarkah?

Senin, 19 September 2022 - 16:57 WIB

Isu Imigran di Amerika Serikat dan Perang Terbuka Antara Demokrat VS Republik

Jumat, 9 September 2022 - 08:30 WIB

Kabar Duka dari Keluarga Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II Meninggal Dunia di Usia 96 Tahun

Berita Terbaru